Langsung ke konten utama

Maukah Terus Terpuruk?

Oleh: Hasan Ridwan

Bagaimana ini? Kita masih terpuruk. Dengan apa kita bayar iuran bangunan dan iuran sekolah? Jajan anak sekolah? Bayaran listrik? Tunggakan telepon? Tunggakan iuran warga? Cicilan barang yang masih tersisa? Keperluan rumah tangga? Juga hutang-hutang yang belum dilunasi? Penghasilan pun tidak punya! Makan apa kita hari ini? Besok bagaimana?

Allaahumma yaa Qoodiyal Haajaat. Yaa Tuhanku yang memenuhi segala kebutuhan. Hanya kepada Engkaulah kami berharap. Hanya Engkaulah sebaik-baik pengurus dan pemberi pertolongan. Allaahumma yaa Arhamar Roohimiin. Yaa Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Mohon ampuni segala dosa dan kesalahan yang telah kami perbuat. Ampuni segala kesalahan kami kepada orang tua kami. Jangan jauhkan kami dari pintu rahmat-Mu. Jangan biarkan kami terbenam di dalam kesesatan yang nyata. Jauhkan segala kekhawatiran ini. Bebaskan kami dari belenggu kesusahan dunia. Mudahkan jalan kami untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat. Amien.

Tak ada asap jika tak ada api. Sesungguhnya apa yang kita alami sekarang tidak pernah terlepas dari apa yang sudah kita kerjakan. Keterpurukan ini adalah “hasil panen terbaik” yang harus kita petik. Kita harus bersyukur, meski “gagal panen”, tetapi Allah SWT. masih bersama kita. Sekarang terserah kita, maukah terus terpuruk?

Kita sudah salah kaprah. Benih yang kita tanam ke dalam qalbu tidak jelas bobot, bibit dan bebetnya. Qalbu kita sangat tidak terawat. Pupuk yang kita berikan ke dalam qalbu sudah terlalu banyak mengandung “racun”. Qalbu kita sudah sedemikian rusak. Jangan salahkan takdir. Qalbu kita sejatinya “belum layak panen”.

Kita harus segera bangkit. Kita harus segera menginstall ulang program keimanan kita. Kita harus lakukan secara bersama-sama. Buang jauh segala virus yang masih menempel di dalam qalbu kita. Ikuti petunjuk yang sudah diberikan oleh Allah SWT. agar kita tidak semakin jauh terpuruk. Akankah kita masih bersama?

Allah SWT. telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’anul Karim pada surat Al-Baqarah yang artinya:

“Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula mereka bersedih hati”
. (QS. Al-Baqarah: 38)

Sekarang semua terserah kita. Hidup adalah pilihan. Hijrah atau semakin jauh tersesat? Sanggupkah kita terus bertahan dalam kondisi seperti ini? Setiap hari kita senantiasa diliputi oleh berbagai kekhawatiran. Apa yang akan terjadi besok? Hari ini bagaimana? Bagaimana kita hidup sekarang ini?

Setiap hari kita senantiasa dilanda kesedihan. Kita senantiasa tidak pernah puas dengan keadaan. Betapa banyak keinginan namun tak kunjung terwujud. Betapa banyak ratapan kekecewaan. Kita senantiasa berada dalam kekurangan. Kita selalu menyusahkan orang lain. Kita hanya menanti harapan. Semua serba tak pasti. Emosi pun semakin tidak terkendali. Kita semakin jauh terpuruk. Qalbu kita semakin rusak. Sungguh sebuah kondisi yang sangat menyesatkan. Naudzubillahi min dzalik.

Harapan itu sudah pasti ada. Meski kemarin “gagal panen”, kita masih beruntung. Kita harus selalu bersyukur. Allah SWT. masih menyayangi kita. Meski serba kekurangan, qalbu kita tak pernah “mati”. Sekarang saatnya kita berhijrah. Jangan sampai jauh terpuruk. Sekarang juga kita harus bertaubat. Taubatan Nasuha. Luruskan niat, buang jauh ego pribadi, jangan menyiksa diri, hilangkan keraguan, hanya kepada Allah SWT. semata kita berserah diri dan hanya keridloan-Nya lah yang kita cari.

Rasulullah Saw. telah memberikan petunjuk yang sangat jelas:

“Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an) dan sunnah Rosul” (Al-Hadits)

Seharusnya kita terus bersama, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan saling nasehat menasehati dalam kesabaran. Sudah siapkah bekal kita di yaumiddin? Awalnya mungkin terasa berat. Tidakkah kita tertarik untuk memetik buahnya di akhir nanti? Laa haula walaa quwwata illaa billaahil’aliyyil azhiim. Tiada daya dan kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Yang Maha Agung. Sebelum jauh terpuruk, mari kita kembalikan segala persoalan kita kepada Al-Qur’an dan sunnah Rosul.

BUPA, 5 Desember 2007 pkl. 06.40 – 08.58 BBWI

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Membantah Ulil Amri?

Oleh: Hasan Ridwan Sungguh berat beban yang harus di pikul oleh seorang ulil amri ( penguasa ). Ketika setiap orang di antara kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap amal perbuatan kita, mereka pun harus menambahnya dengan apa yang sudah diperbuatnya pada periode kekuasaannya. Saya yakin, tidak ada satupun yang akan terlewatkan pada saat itu. Bagi mereka yang tidak menjadi ulil amri tentu lebih mudah. Beban itu seharusnya menjadi lebih ringan. Hanya saja kebanyakan di antara kita selalu mendahului kehendak-Nya. Kita senantiasa khilaf, lidah ini memang tak bertulang, lisan pun rasanya mudah tergelincir. Para ulil amri yang memiliki komitmen untuk memberikan pelayanan terbaik pun seakan tak pernah luput dari gunjingan. Sesungguhnya pada saat itu mereka sedang menantang marabahaya. Ketika kita menggunjingkan para ulil amri apalagi sampai membantahnya maka sesungguhnya kita akan benar-benar berhadapan dengan Rasulullah Saw. dan Allah SWT. Coba renungkan sabd...

Mulai Bangun Konstruksi

Oleh: Hasan Ridwan Kita sudah tahu Apa yang harus kita beli? Kita selalu tawar Harga terbaik yang ingin selalu kita beli Mari melangkah dengan pasti Kita akan bangun konstruksi itu Tak usah khawatir kurang materi Dia selalu hadir untuk memberi Kemana lagi akan berlari Janganlah kita membuang waktu Konstruksi itu jangan kau huni Bukan itu yang kita cari Untuk apa kau tinggali Kepada siapa kamu kan kembali? Serpong, 22 April 2006 Pkl. 10.30 BBWI Inspirasi: Kembali fokus

Rejeki & Kematian

Oleh: Hasan Ridwan Akankah hidup itu menjadi indah jika berbagai kemewahan dunia sudah kita miliki? Akankah kenikmatan itu benar-benar dapat kita rasakan jika mempunyai pekerjaan terpandang, jabatan tinggi, gaji besar, fasilitas kantor yang serba lengkap, rumah mewah, mobil mewah, perhiasan mentereng, tabungan dan deposito melimpah? Akankah kita menjadi orang yang serba kekurangan ketika kita tidak memiliki satupun diantaranya? Mengapa kita menjadi sedemikian hina. Ketika dunia harus menjadi pelayan kita, mengapa kita malah mengemis-mengemis meminta dunia? Sudah waktunya kita mengobati qalbu kita. Sekarang juga. Kita tidak boleh terlalu banyak “bermimpi”. Janganlah menipu diri sendiri. Berbagai kemewahan itu hanyalah fatamorgana. Tidaklah pantas, sungguh sangat tak pantas jika kita terus meratapi ketidakmampuan kita untuk memiliki dunia. Pernahkah berfikir bagaimana rasanya jika mata kita tidak bisa melihat? Seperti apa rasanya jika telinga kita tidak bisa mendengar? Apa yang akan te...